Minggu, 06 September 2015

PERANAN ORANG TUA TERHADAP ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

Di SLBN PIDIE JAYA

A.  Latar Belakang
Sekolah berkebutuhan khusus bagi anak cacat kini hadir di Pidie Jaya. Kendati masih minim baik fasilitas, tenaga pengajar serta beberapa sarana utama yang diperlukan anak didik lainnya, namun pihak sekolah atau pengelola tetap berupaya semaksimal mungkin untuk memajukan lembaga pendidikan dimaksud.Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) yang berlokasi di Gampong Pohroh Kecamatan Meureudu, aktif mulai September 2014 lalu.
SLBNPidie Jaya merupakan salah satu sekolah yang mendidik semua jenis anak berkebutuhan khusus (ABK). Dalam hal tersebut, semua sekolah yang menerapkan inklusi harus tunduk kepada SLBN Pidie Jaya.
Tidak sedikit orang tua yang mendapati anaknya berkebutuhan khusus lalu mereka malu untuk mengakuinya kepada orang lain. Menurut saya, ini adalah dasar kesalahan para orang tua. Mengapa demikian? Karena seharusnya anak berkebutuhan khusus itu harus mendapatkan dukungan penuh dari orang yang paling dekat dengan mereka. Kalau orang tuannya saja malu untuk mengakuinnya, lalu bagaimana bisa mereka bisa tumbuh kembang dan mendapatkan pendidikan yang baik?. Sangat miris bila kita menjumpai permasalahan yang demikian.
Ada pula orangtua yang menyekolahkan anaknya memang ditempat yang benar, namun mereka menyerahkan sepenuhnya kepada para guru untuk mendidik anak mereka. Dengan alasan guru di sekolah tersebut telah menguasai bidangnya. Benar demikian, hanya saja hakikatnya manusia adalah makhluk sosial yang tidak terlepas dari bantuan orang lain atau tolong menolong terhadapnya. Begitupun guru dengan orang tua murid.
Menurut saya untuk menghindari dari permasalahan-permasalahan yang tidak diinginkan dan dampak yang tidak baik bagi anak berkebutuhan khusus, maka perlunya kesadaran orang tua untuk lebih memperhatikan kebutuhan anak terutama bagi anak yang berkebutuhan khusus. Serta komunikasi yang baik antara guru dan orang tua. Ketika ada hal-hal yang tidak mampu diselesaikan dalam menangani anak berkebutuhan khusus segera bicarakan untuk hasil yang baik bagi semua. Saling bertukar informasi tentang anak di lingkungan yang biasa mereka lalui bersama. Informasi dari guru kepada orang tua  bagaimana anak di sekolah dan sebaliknya. Pentingnya kerjasama orang tua dan guru agar tidak adanya saling menyalahkan pada akhirnya.
Ketika semua yang di atas bisa dilaksanakan dengan baik, maka besar harapan saya dapat menjadikan semua terbaik dan hasil yang memuaskan. Dan akan lebih berusaha keras untuk dapat menjadi tenaga pengajar dan pendidik yang bisa membatu anak-anak berkebutuhan khusus untuk bisa menemukan dan mengembangkan apa yang mereka punya dengan bantuan orang tua mereka juga.
Memiliki anak berkebutuhan khusus diakui merupakan tantangan yang cukup berat bagi banyak orangtua. Tidak sedikit yang mengeluhkan bahwa merawat dan mengasuh anak berkebutuhan khusus membutuhkan tenaga dan perhatian yang ekstra karena tidak semudah saat melakukannya pada anak-anak normal. Namun demikian, hal ini harus dapat disikapi secara positif, agar selanjutnya orangtua dapat menemukan langkah-langkah yang tepat untuk mengoptimalkan perkembangan dan berbagai potensi yang masih dimiliki oleh anak-anak tersebut. Terlebih pada prinsipnya, meskipun memiliki keterbatasan, bukan berarti tertutup sudah semua jalan bagi anak berkebutuhan khusus untuk dapat berhasil dalam hidupnya dan menjalani hari-harinya tanpa selalu bergantung pada orang lain. Di balik kelemahan atau kekurangan yang dimiliki, anak berkebutuhan khusus masih memiliki sejumlah kemampuan atau modalitas yang dapat dikembangkan untuk membantunya menjalani hidup seperti individu-individu lain pada umumnya.
Keluarga dalam hal ini adalah lingkungan terdekat dan utama dalam kehidupan anak berkebutuhan khusus. Heward (2003) menyatakan bahwa efektivitas berbagai program penanganan dan peningkatan kemampuan hidup anak berkebutuhan khusus akan sangat ditentukan oleh peran serta dan dukungan penuh dari keluarga, sebab keluarga adalah pihak yang mengenal dan memahami berbagai aspek dalam diri seseorang dengan jauh lebih baik daripada orang-orang yang lain.
Di samping itu, dukungan dan penerimaan dari orangtua dan anggota keluarga yang lain akan memberikan ‘energi’ dan kepercayaan dalam diri anak berkebutuhan khusus untuk lebih berusaha mempelajari dan mencoba hal-hal baru yang terkait dengan ketrampilan hidupnya. Sebaliknya, penolakan atau minimnya dukungan yang diterima dari orang-orang terdekat akan membuat mereka semakin rendah diri dan menarik diri dari lingkungan, enggan berusaha karena selalu diliputi oleh ketakutan ketika berhadapan dengan orang lain maupun untuk melakukan sesuatu, dan pada akhirnya mereka benar-benar menjadi orang yang tidak dapat berfungsi secara sosial serta selalu tergantung pada bantuan orang lain, termasuk dalam merawat diri sendiri.
B.  Pembahasan
1.      Peranan Orang tua Terhadap ABK
Cukup banyak orangtua di Indonesia yang telah berhasil membesarkan dan memberikan dukungan sehingga individu berkebutuhan khusus mampu berprestasi di berbagai bidang, memenuhi peran-peran dan fungsi sosial di masyarakat seperti halnya individu normal, memperoleh penghasilan, dan bahkan menciptakan lapangan pekerjaan yang tidak hanya berguna bagi diri sendiri namun juga bermanfaat untuk orang-orang di sekitarnya.
Menambahkan uraian sebelumnya, hal lain yang juga tidak kalah penting untuk dipahami adalah bahwa pengasuhan dan pendidikan yang baik untuk anak berkebutuhan khusus pada dasarnya tidak selalu identik dengan dana yang besar. Cukup banyak keluarga khusus yang “berhasil” ternyata memiliki kondisi ekonomi yang terbatas. Namun demikian kehidupan yang sederhana tersebut tidak mengurangi kebersamaan dan komunikasi yang saling dukung antar anggota keluarga, sehingga sejalan dengan pernyataan Heward (2003) bahwa dalam sebuah keluarga yang kondusif, yang diantara anggota-anggotanya memiliki kedekatan emosional serta sifat yang komunikatif satu sama lain, akan tersedia berbagai macam dukungan untuk mengatasi hambatan perkembangan yang dialami oleh anak. Mereka akan dapat memilih cara yang tepat, sesuai dengan karakteristik anak, kondisi dan kemampuan keluarga itu sendiri, sehingga treatmen yang dilakukan dapat berjalan dengan baik dan mencapai hasil yang maksimal, sekalipun treatmen tersebut hanya berupa aktivitas-aktivitas yang sederhana.
Orangtua mengajak dan sekaligus memberi contoh kepada anak-anaknya yang normal untuk bersama-sama membantu mengajarkan ketrampilan hidup sehari-hari kepada saudara mereka (merawat diri, membersihkan rumah, membaca, menulis, berhitung, dan sebagainya), menanamkan untuk selalu mengasihi saudara bagaimanapun kondisinya, serta tidak perlu malu memiliki saudara yang berkebutuhan khusus.
Bentuk partisipasi dari orang tua dan guru dalam menunjang pendidikan bagi anak yang mengalami gangguan emosi sosial dan perilaku adalah:
1.      Pola Asuh Orang Tua
Pola asuh sangat berpengaruh pada perkembangan pendidikan si anak. Jika anak mendapatkan pola asuh yang salah dari orang tua, maka pendidikan tadi tidak berjalan dengan apa yang diharapkan. Oleh karena itu perlu pendidikan yang lebih bagi orangtua untuk mengasuh anak tunalaras. 
Ada beberapa jenis pola asuh yang sering digunakan oleh orang tua terhadap anak mereka adalah:
1. Pola asuh otoritative (otoriter)
2. Pola asuh permisive (pemanjaan)
3. Pola asuh indulgent (penelantaran)
4. Pola asuh autoritatif (demokratis)
Dari keempat pola asuh diatas, pola asuh yang akan memabntu anak tunalaras dalam pendidikannya adalha pola asuh nomor empat yaitu pola asuh demokrasi. Karena pola asuh ini menerima inspirasi dari anak dan tidak terlalu menekankan sesuatu terhadap anak.

2. Melakukan pendekatan individu
Anak tunalaras memang susah untuk diajak bicara, berbagi dan bercerita, namun disini perlu kreativitas dari orang tua dan guru agar anak mau berbagi dan menceritakan segala sesuatu masalh yang ada pada dirinya. Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan secara personal kepada anak, baik pendekatan emosinya dan pendekatan jati dirinya. Contohnya dengan memuji, memenuhi keinginannya, memahami karakternya dengan tidak memberikan hukuman terlebih dahulu. Berusaha memandang sesuatu dari sudut pandang anak. Prosedur yang diperlukan adalah bertahap dan kontinyu. Karena ternyata untuk membiasakan anak berkata jujur itu tidak mudah. Tekhniknya berupa pendekatan secara langsung ke anak atau pun secara tidak langsung melalui teman sebaya anak.
Pendidikan Agama Islam diharapkan menghasilkan manusia yang selalu berupaya menyempurnakan iman, takwa, dan akhlak, serta aktif membangun peradaban dan keharmonisan kehidupan, khususnya dalam memajukan peradaban bangsa yang bermartabat. Manusia seperti itu diharapkan tangguh dalam menghadapi tantangan, hambatan, dan perubahan yang muncul dalam pergaulan masyarakat baik dalam lingkup lokal, nasional, regional, maupun global. Peranan Pendidikan Agama Islam di sekolah dimaksudkan untuk meningkatkan potensi moral dan spiritual yang mencakup pengenalan, pemahaman, penanaman dan pengamalan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan.
2.      Peran guru yang kreatif
Mengidentifikasi keterampilan yang diperlukan guru dalam mengajar anak dengan gangguan emosi dan perilaku ( Hallahan dan Kauffmann, 2006), yakni :
1.      Mengetahui strategi pencegahan dan intervensi bagi individu yang beresiko mengalami gangguan emosi dan perilaku.
2.      Menggunakan variasi teknik yang tidak kaku dan keras untuk mengontrol tingkah laku target dan menjaga atensi dalam pembelajaran.
3.      Menjaga rutinitas pembelajaran dengan konsisten, dan terampil dalam problem solving dan mengatasi konflik. 
4.      Merencanakan dan mengimplementasikan reinforcement secara individual dan modifikasi lingkungan dengan level yang sesuai dengan tingkat perilaku.
5.      Mengintegrasikan proses belajar mengajar (akademik), pendidikan afektif, dan manajeman perilaku baik secara individual maupun kelompok.
6.      Melakukan asesmen atas tingkah laku sosial yang sesuai dan problematik pada siswa secara individual.

4. Pendidik dan Orang tua dapat mengembangkan keterampilan kecerdasan emosional seorang anak dengan memberikan beberapa cara yaitu:
1.      Mengenali emosi diri anak , mengenali perasaan anak sewaktu perasaan yang dirasakan terjadi merupakan dasar kecerdassan emosional. kemampuan untuk memantau peraaan dari waktu kewaktu merupakan hal penting bagi pemahahaman anak. 
2.      Mengelola emosi, menangani perasan anak agar dapat terungkap dengan tepat kemampuan untuk menghibur anak , melepasakan kecemasan kemurungan atau ketersinggungan, atau akibat – akibat yang muncul karena kegagalan.
3.      Memotivasi anak, penataan emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan adalah hal yang sangat penting dalam keterkaitan memberi perhatian dan kasih sayang untuk memotivasi anak dalam melakukan kreasi secara bebas. 
4.      Memahami emosi anak. 
5.      Membina hubungan dengan anak, Setelah kita melakukan identifikasi kemudian kita mampu mengenali, hal lain yang perlu dilakukan untuk dapat mengembangkan kecerdasan emosional yaitu dengan memelihara hubungan. 
6.      Berkomunikasi “dengan jiwa “, Tidak hanya menjadi pembicara terkadang kita harus memberikan waktu lawan bicara untuk berbicara juga dengan demikian posisikan diri kita menjadi pendengar dan penanya yang baik dengan hal ini kita diharapkan mampu membedakan antara apa yang dilakukan atau yang dikatakan anak dengan reaksi atau penilaian.
Bagi anak berkebutuhan khusus, peran aktif orangtua ini merupakan bentuk dukungan sosial yang menentukan kesehatan dan perkembangannya, baik secara fisik maupun psikologis. Dukungan sosial pada umumnya menggambarkan mengenai peranan atau pengaruh yang dapat ditimbulkan oleh orang lain yang berarti seperti anggota keluarga, teman, saudara, dan rekan kerja. Johnson dan Johnson menyatakan bahwa dukungan sosial adalah pemberian bantuan seperti materi, emosi, dan informasi yang berpengaruh terhadap kesejahteraan manusia. Dukungan sosial juga dimaksudkan sebagai keberadaan dan kesediaan orang-orang yang berarti, yang dapat dipercaya untuk membantu, mendorong, menerima, dan menjaga individu.
Individu yang memiliki dukungan sosial yang lebih kecil, lebih memungkinkan untuk mengalami konsekuensi psikis yang negatif. Sementara individu yang memperoleh dukungan sosial yang tinggi akan menjadi individu lebih optimis dalam menghadapi kehidupan saat ini maupun masa yang akan datang, lebih terampil dalam memenuhi kebutuhan psikologi dan memiliki tingkat kecemasan yang lebih rendah, mempertinggi keterampilan interpersonal, memiliki kemampuan untuk mencapai apa yang diinginkan, serta lebih mampu untuk mengupayakan dirinya dalam beradaptasi dengan stress.
Jalur pertama adalah efek langsung (direct effect), dimana baik efek positif dari ketersediaan dukungan maupun efek negatif dari terbatasnya dukungan dan terjadinya isolasi sosial akan memberikan pengaruh secara langsung terhadap kesehatan individu, yang dalam hal ini adalah anak berkebutuhan khusus. Jalur kedua disebut sebagai efek penyeimbang (buffering effect), yaitu dukungan akan membantu mengurangi  atau menurunkan pengaruh dari berbagai stresor akut dan kronik terhadap kesehatan.
REFERENSI

 Heward. (2003). Exceptional Children An Introduction to Special Education. New Jersey: Merill, Prentice Hall.
Suhita, 2005. http://www.masbow.com/2009/08/apa-itu-dukungan-sosial.htmlDiperoleh tanggal 21 maret 2011
Hallahan, D.P. & Kauffman, J.M. (2006). Exceptional Learners: Introduction to Special Education 10th  ed. USA: Pearson.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

OUTDOOR STUDY KE 8 SLB NEGERI PIDIE JAYA MERAYAKAN DIRGAHAYU REBUBLIK INDONESIA YANG KE 77 TAHUN

SLB Negeri Pidie Jaya.  Dalam rangka menyambut Dirgahayu Republik Indonesia yang ke 77, Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Pidie Ja...