PERANAN ORANG TUA TERHADAP ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
Di SLBN PIDIE JAYA
A. Latar Belakang
Sekolah
berkebutuhan khusus bagi anak cacat kini hadir di Pidie Jaya. Kendati masih minim baik fasilitas, tenaga pengajar serta beberapa sarana
utama yang diperlukan anak didik lainnya, namun pihak sekolah atau pengelola
tetap berupaya semaksimal mungkin untuk memajukan lembaga pendidikan
dimaksud.Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) yang berlokasi di Gampong Pohroh
Kecamatan Meureudu, aktif mulai September 2014 lalu.
SLBNPidie
Jaya merupakan salah satu sekolah yang mendidik semua jenis anak berkebutuhan khusus (ABK). Dalam hal
tersebut, semua sekolah yang menerapkan inklusi harus tunduk kepada SLBN Pidie
Jaya.
Tidak sedikit orang tua yang mendapati anaknya
berkebutuhan khusus lalu mereka malu untuk mengakuinya kepada orang lain.
Menurut saya, ini adalah dasar kesalahan para orang tua. Mengapa demikian?
Karena seharusnya anak berkebutuhan khusus itu harus mendapatkan dukungan penuh
dari orang yang paling dekat dengan mereka. Kalau orang tuannya saja malu untuk
mengakuinnya, lalu bagaimana bisa mereka bisa tumbuh kembang dan mendapatkan
pendidikan yang baik?. Sangat miris bila kita menjumpai permasalahan yang
demikian.
Ada pula orangtua yang menyekolahkan anaknya
memang ditempat yang benar, namun mereka menyerahkan sepenuhnya kepada para
guru untuk mendidik anak mereka. Dengan alasan guru di sekolah tersebut telah
menguasai bidangnya. Benar demikian, hanya saja hakikatnya manusia adalah
makhluk sosial yang tidak terlepas dari bantuan orang lain atau tolong menolong
terhadapnya. Begitupun guru dengan orang tua murid.
Menurut saya untuk menghindari dari
permasalahan-permasalahan yang tidak diinginkan dan dampak yang tidak baik bagi
anak berkebutuhan khusus, maka perlunya kesadaran orang tua untuk lebih
memperhatikan kebutuhan anak terutama bagi anak yang berkebutuhan khusus. Serta
komunikasi yang baik antara guru dan orang tua. Ketika ada hal-hal yang tidak
mampu diselesaikan dalam menangani anak berkebutuhan khusus segera bicarakan
untuk hasil yang baik bagi semua. Saling bertukar informasi tentang anak di
lingkungan yang biasa mereka lalui bersama. Informasi dari guru kepada orang
tua bagaimana anak di sekolah dan sebaliknya. Pentingnya kerjasama orang
tua dan guru agar tidak adanya saling menyalahkan pada akhirnya.
Ketika semua yang
di atas bisa dilaksanakan dengan baik, maka besar harapan saya dapat menjadikan
semua terbaik dan hasil yang memuaskan. Dan akan lebih berusaha keras untuk
dapat menjadi tenaga pengajar dan pendidik yang bisa membatu anak-anak
berkebutuhan khusus untuk bisa menemukan dan mengembangkan apa yang mereka
punya dengan bantuan orang tua mereka juga.
Memiliki anak berkebutuhan khusus diakui
merupakan tantangan yang cukup berat bagi banyak orangtua. Tidak sedikit yang
mengeluhkan bahwa merawat dan mengasuh anak berkebutuhan khusus membutuhkan
tenaga dan perhatian yang ekstra karena tidak semudah saat melakukannya pada
anak-anak normal. Namun demikian, hal ini harus dapat disikapi secara positif,
agar selanjutnya orangtua dapat menemukan langkah-langkah yang tepat untuk
mengoptimalkan perkembangan dan berbagai potensi yang masih dimiliki oleh
anak-anak tersebut. Terlebih pada prinsipnya, meskipun memiliki keterbatasan,
bukan berarti tertutup sudah semua jalan bagi anak berkebutuhan khusus untuk
dapat berhasil dalam hidupnya dan menjalani hari-harinya tanpa selalu
bergantung pada orang lain. Di balik kelemahan atau kekurangan yang dimiliki,
anak berkebutuhan khusus masih memiliki sejumlah kemampuan atau modalitas yang
dapat dikembangkan untuk membantunya menjalani hidup seperti individu-individu
lain pada umumnya.
Keluarga dalam hal ini adalah lingkungan
terdekat dan utama dalam kehidupan anak berkebutuhan khusus. Heward (2003)
menyatakan bahwa efektivitas berbagai program penanganan dan peningkatan
kemampuan hidup anak berkebutuhan khusus akan sangat ditentukan oleh peran
serta dan dukungan penuh dari keluarga, sebab keluarga adalah pihak yang
mengenal dan memahami berbagai aspek dalam diri seseorang dengan jauh lebih
baik daripada orang-orang yang lain.
Di samping itu, dukungan dan penerimaan dari
orangtua dan anggota keluarga yang lain akan memberikan ‘energi’ dan
kepercayaan dalam diri anak berkebutuhan khusus untuk lebih berusaha
mempelajari dan mencoba hal-hal baru yang terkait dengan ketrampilan hidupnya.
Sebaliknya, penolakan atau minimnya dukungan yang diterima dari orang-orang
terdekat akan membuat mereka semakin rendah diri dan menarik diri dari
lingkungan, enggan berusaha karena selalu diliputi oleh ketakutan ketika
berhadapan dengan orang lain maupun untuk melakukan sesuatu, dan pada akhirnya
mereka benar-benar menjadi orang yang tidak dapat berfungsi secara sosial serta
selalu tergantung pada bantuan orang lain, termasuk dalam merawat diri sendiri.
B.
Pembahasan
1. Peranan Orang tua Terhadap ABK
Cukup banyak orangtua di Indonesia yang telah berhasil
membesarkan dan memberikan dukungan sehingga individu berkebutuhan khusus mampu
berprestasi di berbagai bidang, memenuhi peran-peran dan fungsi sosial di
masyarakat seperti halnya individu normal, memperoleh penghasilan, dan bahkan
menciptakan lapangan pekerjaan yang tidak hanya berguna bagi diri sendiri namun
juga bermanfaat untuk orang-orang di sekitarnya.
Menambahkan uraian sebelumnya, hal lain yang juga tidak
kalah penting untuk dipahami adalah bahwa pengasuhan dan pendidikan yang baik
untuk anak berkebutuhan khusus pada dasarnya tidak selalu identik dengan dana
yang besar. Cukup banyak keluarga khusus yang “berhasil” ternyata memiliki
kondisi ekonomi yang terbatas. Namun demikian kehidupan yang sederhana tersebut
tidak mengurangi kebersamaan dan komunikasi yang saling dukung antar anggota
keluarga, sehingga sejalan dengan pernyataan Heward (2003) bahwa dalam sebuah
keluarga yang kondusif, yang diantara anggota-anggotanya memiliki kedekatan
emosional serta sifat yang komunikatif satu sama lain, akan tersedia berbagai
macam dukungan untuk mengatasi hambatan perkembangan yang dialami oleh anak.
Mereka akan dapat memilih cara yang tepat, sesuai dengan karakteristik anak,
kondisi dan kemampuan keluarga itu sendiri, sehingga treatmen yang dilakukan
dapat berjalan dengan baik dan mencapai hasil yang maksimal, sekalipun treatmen
tersebut hanya berupa aktivitas-aktivitas yang sederhana.
Orangtua mengajak dan sekaligus
memberi contoh kepada anak-anaknya yang normal untuk bersama-sama membantu
mengajarkan ketrampilan hidup sehari-hari kepada saudara mereka (merawat diri,
membersihkan rumah, membaca, menulis, berhitung, dan sebagainya), menanamkan
untuk selalu mengasihi saudara bagaimanapun kondisinya, serta tidak perlu malu
memiliki saudara yang berkebutuhan khusus.
Bentuk partisipasi dari orang tua
dan guru dalam menunjang pendidikan bagi anak yang mengalami gangguan emosi
sosial dan perilaku adalah:
1.
Pola Asuh Orang Tua
Pola asuh sangat berpengaruh pada
perkembangan pendidikan si anak. Jika anak mendapatkan pola asuh yang salah
dari orang tua, maka pendidikan tadi tidak berjalan dengan apa yang diharapkan.
Oleh karena itu perlu pendidikan yang lebih bagi orangtua untuk mengasuh anak
tunalaras.
Ada beberapa jenis pola asuh yang
sering digunakan oleh orang tua terhadap anak mereka adalah:
1. Pola asuh otoritative
(otoriter)
2. Pola asuh permisive (pemanjaan)
3. Pola asuh indulgent
(penelantaran)
4. Pola asuh autoritatif
(demokratis)
Dari keempat pola asuh diatas,
pola asuh yang akan memabntu anak tunalaras dalam pendidikannya adalha pola
asuh nomor empat yaitu pola asuh demokrasi. Karena pola asuh ini menerima
inspirasi dari anak dan tidak terlalu menekankan sesuatu terhadap anak.
2. Melakukan pendekatan individu
Anak tunalaras memang susah untuk
diajak bicara, berbagi dan bercerita, namun disini perlu kreativitas dari orang
tua dan guru agar anak mau berbagi dan menceritakan segala sesuatu masalh yang
ada pada dirinya. Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan secara personal
kepada anak, baik pendekatan emosinya dan pendekatan jati dirinya. Contohnya
dengan memuji, memenuhi keinginannya, memahami karakternya dengan tidak
memberikan hukuman terlebih dahulu. Berusaha memandang sesuatu dari sudut
pandang anak. Prosedur yang diperlukan adalah bertahap dan kontinyu. Karena
ternyata untuk membiasakan anak berkata jujur itu tidak mudah. Tekhniknya
berupa pendekatan secara langsung ke anak atau pun secara tidak langsung
melalui teman sebaya anak.
Pendidikan Agama Islam diharapkan
menghasilkan manusia yang selalu berupaya menyempurnakan iman, takwa, dan
akhlak, serta aktif membangun peradaban dan keharmonisan kehidupan, khususnya
dalam memajukan peradaban bangsa yang bermartabat. Manusia seperti itu
diharapkan tangguh dalam menghadapi tantangan, hambatan, dan perubahan yang
muncul dalam pergaulan masyarakat baik dalam lingkup lokal, nasional, regional,
maupun global. Peranan Pendidikan Agama Islam di sekolah dimaksudkan untuk
meningkatkan potensi moral dan spiritual yang mencakup pengenalan, pemahaman,
penanaman dan pengamalan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan individual ataupun
kolektif kemasyarakatan.
2.
Peran guru yang kreatif
Mengidentifikasi keterampilan yang
diperlukan guru dalam mengajar anak dengan gangguan emosi dan perilaku (
Hallahan dan Kauffmann, 2006), yakni :
1.
Mengetahui strategi pencegahan dan intervensi bagi
individu yang beresiko mengalami gangguan emosi dan perilaku.
2.
Menggunakan variasi teknik yang tidak kaku dan keras
untuk mengontrol tingkah laku target dan menjaga atensi dalam pembelajaran.
3.
Menjaga rutinitas pembelajaran dengan konsisten, dan
terampil dalam problem solving dan mengatasi konflik.
4.
Merencanakan dan mengimplementasikan reinforcement
secara individual dan modifikasi lingkungan dengan level yang sesuai dengan
tingkat perilaku.
5.
Mengintegrasikan proses belajar mengajar (akademik),
pendidikan afektif, dan manajeman perilaku baik secara individual maupun
kelompok.
6.
Melakukan asesmen atas tingkah laku sosial yang
sesuai dan problematik pada siswa secara individual.
4. Pendidik dan Orang tua dapat mengembangkan
keterampilan kecerdasan emosional seorang anak dengan memberikan beberapa cara
yaitu:
1.
Mengenali emosi diri anak , mengenali perasaan anak
sewaktu perasaan yang dirasakan terjadi merupakan dasar kecerdassan emosional.
kemampuan untuk memantau peraaan dari waktu kewaktu merupakan hal penting bagi
pemahahaman anak.
2.
Mengelola emosi, menangani perasan anak agar dapat
terungkap dengan tepat kemampuan untuk menghibur anak , melepasakan kecemasan
kemurungan atau ketersinggungan, atau akibat – akibat yang muncul karena
kegagalan.
3.
Memotivasi anak, penataan emosi sebagai alat untuk
mencapai tujuan adalah hal yang sangat penting dalam keterkaitan memberi
perhatian dan kasih sayang untuk memotivasi anak dalam melakukan kreasi secara
bebas.
4.
Memahami emosi anak.
5.
Membina hubungan dengan anak, Setelah kita melakukan
identifikasi kemudian kita mampu mengenali, hal lain yang perlu dilakukan untuk
dapat mengembangkan kecerdasan emosional yaitu dengan memelihara
hubungan.
6.
Berkomunikasi “dengan jiwa “, Tidak hanya menjadi
pembicara terkadang kita harus memberikan waktu lawan bicara untuk berbicara
juga dengan demikian posisikan diri kita menjadi pendengar dan penanya yang
baik dengan hal ini kita diharapkan mampu membedakan antara apa yang dilakukan
atau yang dikatakan anak dengan reaksi atau penilaian.
Bagi anak berkebutuhan khusus, peran aktif orangtua ini
merupakan bentuk dukungan sosial yang menentukan kesehatan dan perkembangannya,
baik secara fisik maupun psikologis. Dukungan sosial pada umumnya menggambarkan
mengenai peranan atau pengaruh yang dapat ditimbulkan oleh orang lain yang
berarti seperti anggota keluarga, teman, saudara, dan rekan kerja. Johnson dan
Johnson menyatakan bahwa dukungan sosial adalah pemberian bantuan seperti
materi, emosi, dan informasi yang berpengaruh terhadap kesejahteraan manusia.
Dukungan sosial juga dimaksudkan sebagai keberadaan dan kesediaan orang-orang
yang berarti, yang dapat dipercaya untuk membantu, mendorong, menerima, dan
menjaga individu.
Individu yang memiliki dukungan sosial yang lebih kecil,
lebih memungkinkan untuk mengalami konsekuensi psikis yang negatif. Sementara
individu yang memperoleh dukungan sosial yang tinggi akan menjadi individu
lebih optimis dalam menghadapi kehidupan saat ini maupun masa yang akan datang,
lebih terampil dalam memenuhi kebutuhan psikologi dan memiliki tingkat
kecemasan yang lebih rendah, mempertinggi keterampilan interpersonal, memiliki
kemampuan untuk mencapai apa yang diinginkan, serta lebih mampu untuk mengupayakan
dirinya dalam beradaptasi dengan stress.
Jalur pertama adalah efek langsung (direct effect), dimana baik efek positif dari
ketersediaan dukungan maupun efek negatif dari terbatasnya dukungan dan
terjadinya isolasi sosial akan memberikan pengaruh secara langsung terhadap
kesehatan individu, yang dalam hal ini adalah anak berkebutuhan khusus. Jalur
kedua disebut sebagai efek penyeimbang (buffering effect),
yaitu dukungan akan membantu mengurangi atau menurunkan pengaruh dari
berbagai stresor akut dan kronik terhadap kesehatan.
REFERENSI
Heward. (2003). Exceptional Children An
Introduction to Special Education. New Jersey: Merill, Prentice Hall.
Suhita,
2005. http://www.masbow.com/2009/08/apa-itu-dukungan-sosial.htmlDiperoleh
tanggal 21 maret 2011
Hallahan,
D.P. & Kauffman, J.M. (2006). Exceptional Learners: Introduction to
Special Education 10th ed. USA:
Pearson.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar